Kamis, 15 Agustus 2019
Moments di HubbulWathan Duri (KOMPILASI FOTO)
Sabtu, 01 Juni 2019
Manisan Salak
Salak yang memiliki nama ilmiah atau binomial ‘Salacca zalacca’ ini mempunyai daging kekuningan dengan biji keras berwarna cokelat kehitaman. Rasa dari buah salak cenderung manis, namun agak asam. Namun tiap jenis salak memiliki beda rasa, seperti salak pondoh yang rasanya cenderung manis dengan dagingnya yang putih.
Manisan salak menjadi salah stau olahan yang banyak disukai, terutama saat hari besar tertentu. Cara membuat manisan salah ini terbilang mudah, namun masih banyak orang yang beranggapan terlihat sulit dan ribet.
1. Cara Membuat Manisan Salak Basah
Bahan cara membuat manisan salak basah:
1 kg salak yang sudah cukup tua
3 L air
1/2 kg gula pasir putih
2-3 sendok teh garam
1 gram asam askorbat
Cara membuat manisan salak basah:
1. Kupas terlebih dahulu salak, dan pisahkan antara daging dan bijinya. Pastikan daging salak benar-benar bersih, kemudian potong daging buah salak menjadi beberapa bagian.
2. Rendam daging buah salak di dalam air yang sebelumnya sudah ditambahkan garam selama kurang lebih satu malam.
3. Setelah semalaman direndam, cuci daging buah salak menggunakan air matang yang hangat. Pastikan dicuci dengan bersih, setelah itu tiriskan.
4. Masukkan air ke dalam panci dan tambahkan gula pasir.
5. Masak air dan gula tersebut sampai mengental.
6. Kemudian tuangkan air gula ke dalam toples kaca bersama dengan salak, lalu diamkan selama 7 hari.
7. Setelah itu, buat larutan asam askorbat dengan melarutkan 1 gram asam askorbat ke dalam 1 liter air.
8. Rendam manisan salak ke dalam larutan asam askorbat selama 7-15 menit.
9. Lalu masukkan ke dalam wadah.
10. Agar manisan salak basah tahan lama, masukkan ke dalam kulkas.
1 kg salak yang sudah cukup tua
3 L air
1/2 kg gula pasir putih
2-3 sendok teh garam
1 gram asam askorbat
Cara membuat manisan salak basah:
1. Kupas terlebih dahulu salak, dan pisahkan antara daging dan bijinya. Pastikan daging salak benar-benar bersih, kemudian potong daging buah salak menjadi beberapa bagian.
2. Rendam daging buah salak di dalam air yang sebelumnya sudah ditambahkan garam selama kurang lebih satu malam.
3. Setelah semalaman direndam, cuci daging buah salak menggunakan air matang yang hangat. Pastikan dicuci dengan bersih, setelah itu tiriskan.
4. Masukkan air ke dalam panci dan tambahkan gula pasir.
5. Masak air dan gula tersebut sampai mengental.
6. Kemudian tuangkan air gula ke dalam toples kaca bersama dengan salak, lalu diamkan selama 7 hari.
7. Setelah itu, buat larutan asam askorbat dengan melarutkan 1 gram asam askorbat ke dalam 1 liter air.
8. Rendam manisan salak ke dalam larutan asam askorbat selama 7-15 menit.
9. Lalu masukkan ke dalam wadah.
10. Agar manisan salak basah tahan lama, masukkan ke dalam kulkas.
2. Cara Membuat Manisan Salak Kering
Bahan cara membuat manisan salak kering:
1 kg salak yang masih mengkal
3 L air
500 gram gula pasir putih
10 gram garam
1 gram asam askorbat
1 gram natirum bisulfit
Cara membuat manisan salak kering:
1. Kupas salak dan pisahkan antara daging dan bijinya. Lalu potong daging salak sesuai selera, setelah sebelumnya dibersihkan terlebih dahulu.
2. Larutkan garam di dalam satu liter air.
3. Masukkan daging buah salak ke dalam larutan garam dan diamkan selama satu malam.
4. Setelah semalaman, cuci daging buah salak sampai bersih menggunakan air matang yang hangat, lalu tiriskan.
5. Buat larutan gula dengan mencampur gula pasir dan air, masak sampai larutan gula mengental.
6. Masukkan daging buah salak dan larutan gula ke dalam toples. Diamkan selama 7 hari.
7. Setelah itu, larutkan 1 gram asam askorbat ke dalam 1 liter air.
8. Rendam daging buah salak yang sudah didiamkan selama 7 hari ke dalam larutan asam askorbat, sekitar 7-15 menit.
9. Buat juga larutan bisulfit dengan mencampur 1 gram natrium bisulfit dan 1 liter air.
10. Lalu masukkan daging buah salak ke dalam larutan bisulfit selama 15-25 menit.
11. Tiriskan daging buah salak, dan taburi dengan gula.
12. Manisan salak kering siap disajikan.
Bahan cara membuat manisan salak kering:
1 kg salak yang masih mengkal
3 L air
500 gram gula pasir putih
10 gram garam
1 gram asam askorbat
1 gram natirum bisulfit
Cara membuat manisan salak kering:
1. Kupas salak dan pisahkan antara daging dan bijinya. Lalu potong daging salak sesuai selera, setelah sebelumnya dibersihkan terlebih dahulu.
2. Larutkan garam di dalam satu liter air.
3. Masukkan daging buah salak ke dalam larutan garam dan diamkan selama satu malam.
4. Setelah semalaman, cuci daging buah salak sampai bersih menggunakan air matang yang hangat, lalu tiriskan.
5. Buat larutan gula dengan mencampur gula pasir dan air, masak sampai larutan gula mengental.
6. Masukkan daging buah salak dan larutan gula ke dalam toples. Diamkan selama 7 hari.
7. Setelah itu, larutkan 1 gram asam askorbat ke dalam 1 liter air.
8. Rendam daging buah salak yang sudah didiamkan selama 7 hari ke dalam larutan asam askorbat, sekitar 7-15 menit.
9. Buat juga larutan bisulfit dengan mencampur 1 gram natrium bisulfit dan 1 liter air.
10. Lalu masukkan daging buah salak ke dalam larutan bisulfit selama 15-25 menit.
11. Tiriskan daging buah salak, dan taburi dengan gula.
12. Manisan salak kering siap disajikan.
3. Cara Membuat Manisan Salak Tanpa Pengawet
Dua resep di atas cara membuat manisan salak menggunakan pengawet berupa asam askorbat dan natrium bisulfit. Resep selanjutnya akan tidak menggunakan pengawet tersebut.
Bahan cara membuat manisan salak:
5 kg salak
1 kg gula pasir
5 liter air
1/2 teh garam
Cara membuat manisan salak:
1. Kupas terlebih dahulu buah salak, dan potong-potong berbentuk lingkaran atau bisa juga sesuai dengan selera, lalu sisihkan.
2. Rebus air, gula pasir, dan garam sampai mendidih dan gula menjadi larut, gunakan api kecil saja dan jangan lupa sambil diaduk.
3. Masukkan salak yang sudah dipotong-potong, kemudian aduk rata dan masak sampai matang.
4. Lalu angkat dan biarkan sampai dingin. Jika sudah dingin, masukkan manisan salak ke wadah dan simpan di dalam kulkas.
5. Manisan salak tanpa pengawet siap disajikan.
Dua resep di atas cara membuat manisan salak menggunakan pengawet berupa asam askorbat dan natrium bisulfit. Resep selanjutnya akan tidak menggunakan pengawet tersebut.
Bahan cara membuat manisan salak:
5 kg salak
1 kg gula pasir
5 liter air
1/2 teh garam
Cara membuat manisan salak:
1. Kupas terlebih dahulu buah salak, dan potong-potong berbentuk lingkaran atau bisa juga sesuai dengan selera, lalu sisihkan.
2. Rebus air, gula pasir, dan garam sampai mendidih dan gula menjadi larut, gunakan api kecil saja dan jangan lupa sambil diaduk.
3. Masukkan salak yang sudah dipotong-potong, kemudian aduk rata dan masak sampai matang.
4. Lalu angkat dan biarkan sampai dingin. Jika sudah dingin, masukkan manisan salak ke wadah dan simpan di dalam kulkas.
5. Manisan salak tanpa pengawet siap disajikan.
source; Liputan6.com
Resep membuat kurma salak
Bahan yang harus disediakan:
- Buah salak segar 350 gram
- Gula jawa 150 gram yang sudah dilelehkan
- Gula pasir 55 gram
- Essens 1 sendok teh
- Serta garam, injet, air secukupnya.
Cara pembuatan:
- Kupas salak dan buang bijinya, lalu cuci hingga bersih.
- Rendam salak dalam lauratan injet selama 1 jam, lalu tiriskan.
- Potong kecil-kecil daging buah salak.
- Kemudia masak gula jawa dan gula pasir hingga mencair dalam sebuah panci, tambahkan air pula.
- Masukan daging salak kedalam panci, aduk terus sampai larutan mengental.
- Setelah larutan gula mengental, cetak larutan itu menyerupai kurma.
- Atur loyang cetakan, lalu jemur langsung dibawah sinar matahari hingga mengering.
- Setelah dijemur dan mengering, masukan kedalam oven kira-kira selama 10-15 menit.
- Kurma salak telah jadi dan siap untuk dinikmati.
Sirup Salak
Ternyata buah salak bisa dijadikan minuman, rasanya yang asam manis ini membuat buah ini bisa dijadikan sirup yang rasanya tentu sangat segar. Nah, mau tau bagaimana cara mengelola buah ini agar bisa dijadikan sirup? Berikut dibawah ini ada langkah-langkah cara membuat sirup salak.
Bahan yang harus disediakan:
- 1 kg buah salak
- 1200 gram gula pasir
- 200 ml air putih.
- Pertama kupaslah buah salak dan hilangkan bijinya, lalu iris kecil-kecil dan diblender sampai halus.
- Jika sudah diblender, peraslah buah salak yang sudah dihaluskan semaksimal mungkin untuk diambil sarinya.
- Siapkanlah panci lalu masukan air dan gula, kemudian rebus hingga mendidih sampai gulanya larut dalam air.
- Jika sudah masukan air perasan buah salak ke dalam larutan gula yang sudah direbus, selanjutnya aduklah sampai benar-benar merata.
- Kemudian rebus kembali semua bahan yang sudah disatukan kira-kira 15-20 menit, setelah itu lalu saringlah dan masukan kedalam botol kemudian simpanlah didalam lemari es.
- Sirup salak pun siap dihidangkan.
Jumat, 31 Mei 2019
Cara membuat keripik salak
Bahan yang diperlukan :
• Buah salak yang sudah matang 2 kil0 gram
• Air 2,5 liter
• Kapur sirih 100 gram
• Minyak goreng secukupnya
• Gula pasir 250 gram
• Garam secukupnya
Cara Membuat Keripik Salak:
• Buah salak yang sudah matang 2 kil0 gram
• Air 2,5 liter
• Kapur sirih 100 gram
• Minyak goreng secukupnya
• Gula pasir 250 gram
• Garam secukupnya
Cara Membuat Keripik Salak:
- Untuk Cara Membuat Keripik Salak anda Ambil buah salak yang masih segar, Pilih buah salak yang masih baik dan tidak busuk.
- Kemudian kupas salak dari kulitnya sampai bersih.
- Lalu salak dipisahkan dari bijinya dan ambil daging salaknya.
- membersihkan daging salak.
- Masukan kapur sirih pada air, kemudian tambahkan garam dan gula pasir. Aduk-aduk hingga semua bahan larut. Kemudian masukan daging salak direndam selama 1 jam. Fungsi kapur sirih adalah untuk menghilangkan getah pada salak.
- Setelah direndam dengan sirih selama 1 jam kemudian diangkat salaknya dari rendaman dan tiriskan.
- Panaskan oven tradisional pada wajan, dan masukan salak pada oven. Terlebih dahulu diatur letak daging salaknya agar tidak bertumpukan. Tujuan salak dioven adalah untuk menghilangkan kandungan air pada salak. Setidaknya bisa mengurangi kandungan airnya. Setelah salak kering lanjut ke tahap berikutnya.
- Panaskan wajan hingga benar-benar panas dan goreng salak hingga berwarna kuning keemasan atau coklat.
- Setelah salak matang digoreng, kalau sista punya alat vacuum frying bisa digunakan agar kandungan minyak salak bisa hilang, jadi salak bisa tahan sampai satu bulan.
Senin, 02 Januari 2017
Error analyzing on thesis
Error analyzing on thesis by Wening
Penggalih
A. Statistical report
|
Types
of Error
|
Chapter
I
|
Chapter
II
|
Chapter
III
|
|
|
1
|
Verb
Tense
|
-
|
-
|
-
|
|
|
2
|
Word
Order
|
-
|
1
|
-
|
|
|
3
|
S/V
Agreement
|
-
|
-
|
-
|
|
|
4
|
Pronoun
|
-
|
-
|
-
|
|
|
5
|
Spelling
|
1
|
12
|
1
|
|
|
6
|
Capitalization
|
1
|
4
|
-
|
|
|
7
|
Preposition
|
-
|
-
|
-
|
|
|
8
|
Article
|
1
|
1
|
-
|
|
|
9
|
Double
Negative
|
-
|
-
|
-
|
|
|
10
|
Sentence
Fragment
|
-
|
-
|
-
|
|
|
Sum
|
|
3
|
18
|
1
|
B.
Error
Identification and Error Correction
1)
Verb tense -
2)
Word order
ü by
learning and is determined
by the knowledge (C.2/P.5)
correction: by learning and determined by the knowledge
3)
S/V Agreement -
4)
Pronoun -
5)
Spelling
ü .---- some advantages for all people who read thid research (C1/P3)
Correction: some
advantages for all people who read this research
ü imagination should contribute to thinkingdisposition (C2/P5)
Correction: imagination should contribute to thinking disposition
ü Looking at issues from a number of persectives (C2/P5)
Correction:
Looking at issues from a number of perspectives
ü ----. and Appreciationof metacognition
(C2/P5)
Correction: and
Appreciation of metacognition
ü as a relatively sta
ble skill (C2/P5)
Correction: as a relatively stable skill
ü translating mental representationsinto linguistic
forms (C2/P5)
Correction:
translating mental representations into linguistic forms
ü To be a god writer,
(C2/P6)
Correction: To be a
good writer,
ü According to Brummer snd clark
(C2/P6)
Correction:
According to Brummer and clark
ü to translate coplex
idas into word (C2/P6)
Correction: to translate complex ideas into word
ü For some writers this may invpolve making
detailed notes (C2/P6)
Correction: For some writers this may involve making
detailed notes
ü ---- of writing as a dearft (C2/P6)
Correction: of
writing as a draft
ü to elabored ad develop
ability (C2/P14)
Correction: to elaborate and develop ability
ü In the post teaching ctivities (C2/16)
Correction: In the
post teaching activities
ü to create and write th erecount text by using EGRA Technique
(C3/P22)
Correction: to create and write the recount text by using EGRA Technique
Correction: to create and write the recount text by using EGRA Technique
6). Capitalization
ü in SMPN 31 Pekanbaru, There
are some problem (C1/P1)
Correction: in SMPN 31 Pekanbaru, there are some problem
ü metacognition. writing
is a means to develop imagination (C2/P5)
Correction: metacognition. Writing is a means to develop
imagination
ü will be amended later. produced
on the way to the final version (C2/P6)
Correction: will be amended later. Produced on the way to the final
version
ü The researcher concludes that
In teaching writing (C2/P7)
Correction: The researcher concludes that in teaching writing
ü a reorientation at the end. it
summarize the event (C2/P10)
Correction: a reorientation at the end. It summarize the event
7). Preposition -
8). Article
ü Recount text is the
telling the reader what happened (C1/P4)
Correction: Recount text is telling the reader what happened
Correction: Recount text is telling the reader what happened
ü Recount text is the
telling the reader what happened (C2/P10)
Correction: Recount text is telling the reader what happened
Correction: Recount text is telling the reader what happened
9). Double Negative -
10). Sentence
Fragment -
C.
Have Largest of Error
1. the largest error based thesis r is chapter II
1. the largest error based thesis r is chapter II
2. the largest type of
error is spelling and capitalization
Sabtu, 26 November 2016
What is a "Lingua Franca"? (Quick Video)
Sabtu, 19 November 2016
Biography of HEIDI E. HAMILTON
Heidi E. Hamilton is Professor
in the Department of Linguistics, Georgetown University where she teaches
courses in discourse analysis and applications of interactional
sociolinguistics. Her research interests focus on issues of discourse and Alzheimer's
disease, language and aging, and health discourse.
Her books include Conversations with an Alzheimer's Patient,Language and Communication in Old Age: Multidisciplinary Perspectives, Glimmers: A Journey into Alzheimer's Disease,Handbook of Discourse Analysis (with Tannen and Schiffrin),Linguistics, Language, and the Professions (with Alatis and Tan), Doing Foreign Language (with Crane and Bartoshesky), and Handbook of Language and Health Communication (with Chou). Her current book project is titled Language, Dementia, and Meaning Making: Navigating Everyday Challenges of Epistemic Understanding and Face. She has given plenary lectures at a range of linguistics, health, and aging conferences and workshops around the world, including in Austria, Belgium, Germany, Japan, Norway, Spain, Sweden, the United Kingdom, and the United States.
Major awards include the Fulbright Distinguished Chair in Linguistics in Innsbruck, Austria and DAAD Gastdozentin in Berlin, Germany. For the past forty-plus summers, she has taught German and carried out research as Village Mentor at the K-12 language and cultural immersion programs of Concordia Language Villages in northern Minnesota http://www.concordialanguagevillages.org/.
Heidi lives in Rockville, Maryland with her husband, Dan, Professor at the Johns Hopkins School of Advanced International Studies. Their son, Sean, studies at Lawrence University in Wisconsin. Their daughter, Siri, lives in Massachusetts with her husband, Shawn, and teaches third grade in Boston.
Her books include Conversations with an Alzheimer's Patient,Language and Communication in Old Age: Multidisciplinary Perspectives, Glimmers: A Journey into Alzheimer's Disease,Handbook of Discourse Analysis (with Tannen and Schiffrin),Linguistics, Language, and the Professions (with Alatis and Tan), Doing Foreign Language (with Crane and Bartoshesky), and Handbook of Language and Health Communication (with Chou). Her current book project is titled Language, Dementia, and Meaning Making: Navigating Everyday Challenges of Epistemic Understanding and Face. She has given plenary lectures at a range of linguistics, health, and aging conferences and workshops around the world, including in Austria, Belgium, Germany, Japan, Norway, Spain, Sweden, the United Kingdom, and the United States.
Major awards include the Fulbright Distinguished Chair in Linguistics in Innsbruck, Austria and DAAD Gastdozentin in Berlin, Germany. For the past forty-plus summers, she has taught German and carried out research as Village Mentor at the K-12 language and cultural immersion programs of Concordia Language Villages in northern Minnesota http://www.concordialanguagevillages.org/.
Heidi lives in Rockville, Maryland with her husband, Dan, Professor at the Johns Hopkins School of Advanced International Studies. Their son, Sean, studies at Lawrence University in Wisconsin. Their daughter, Siri, lives in Massachusetts with her husband, Shawn, and teaches third grade in Boston.
Academic and
Professional History
Ø
Georgetown University, Washington, D.C.
2007- present Professor, Department
of Linguistics Chair, Department of Linguistics, 2009-2015
The German Academic Exchange Service (DAAD) Visiting Professorship Award (Gastdozentin)
John-F-Kennedy-Institut für Nordamerikastudien, Freie Universität Berlin,
Germany, Spring 2008
1997-2007 Associate Professor,
Department of Linguistics Fulbright Distinguished Chair in Linguistics,
University of Innsbruck, Austria, Spring 2003
1992-1997 Assistant Professor on the
tenure track Department of Linguistics
1990-1992 Visiting Assistant
Professor, Department of Linguistics
Ø
Freie Universität Berlin (Free University of
Berlin), Germany
1985-1989: Lecturer
(Lehrbeauftragte), Department of Linguistics John F. Kennedy Institute of North
American Studies
Ø
Concordia Language Villages, Concordia
College, Minnesota
2015-present: Village Mentor
2005-2015: Senior Researcher
1992-2005: Research Coordinator
(summers only)
1973-1992: variety of positions
including Assistant Dean and Program Director
Educational Background
Ph.D. in Linguistics, Georgetown
University, Washington, D.C., 1989. With distinction.
M.S. in Linguistics, Georgetown
University, Washington, D.C., 1983.
B.A. St. Olaf College, Northfield,
Minnesota, 1977. Summa cum laude, Phi Beta Kappa.
Teaching and Mentoring
|
·
Introduction
to Linguistics
·
Introduction
to Sociolinguistics
·
Discourse
Analysis: Conversation
·
Language
and Political Power in the United States
Courses taught at Universität
Innsbruck (as Fulbright Distinguished Chair
in Linguistics 2003)
·
Discourse
Analysis: Conversation
·
Discourse
Analysis: Narrative
·
Doctor-Patient
Communication
|
Langganan:
Postingan (Atom)



